Doa Tulus Untuk Kematian Heath Ledger
January 23rd, 2008 by erdiawanwarrenDitemukan dengan muka menghadap lantai dalam keadaan telanjang di apartmentnya:
POST STAFF REPORT, The NY Post
Ditemukan dengan muka menghadap lantai dalam keadaan telanjang di apartmentnya:
POST STAFF REPORT, The NY Post
Sekarang banyak orang bermusik. Bahkan berkali-kali lipat dibanding jaman dulu, terutama sejak dikenal internet. Semua orang bisa menaruh contoh rekamannnya di myspace. Itu memang hal positif. Namun jumlah musik bagus sekarang tidak akan bisa dibandingkan dengan musik lama. Bukannya Saya membenci musik baru—Saya masih mendengarkan Muse, Maroon 5 sampai Kanye West. Musik sekarang kebanyakan musik jelek. Ambil contoh besar, mereka para label sekarang hanya memanfaatkan musik sebagai tujuan komersil. Tanpa mau tahu lagi lagu apa yang sedang dibuat. Melihat tindakan idiot Melly Goeslaw mengumpulkan para amatiran yang menyebut diri mereka BBB. Sungguh menyedihkan keadaan mereka yang berdiri tanpa dasar alasan yang jelas. Mereka seperti koki yang membuat makanan tanpa persiapan resep sekalipun, tetapi semua pelanggan suka.
Begitu juga dengan keluarnya band-band indie dari sarangnya. Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar bisa bermain musik. Sisanya hanya membuat Saya ingin menutup telinga saja. Seperti Kangen band yang muncul dengan persiapan yang jelek. Kesuksesannya secara komersil membuat banyak band-band lainnya nekat mengikuti jejaknya. Itu belum masuk hitungan band-band punk lokal yang sama sekali tidak tahu cara bermusik. Mereka bahkan tidak tahu apa itu musik punk. Di sini saya bukannya mencoba untuk menjadi Simon Cowell. Tapi itu membuat langkanya istilah superstar di kemudian hari dan keperkasaan rock and roll meredup.
Anda boleh mempertanyakan popularitas seorang Bruce Springsteen atau Bob Dylan kepada orang-orang sekitar. Mereka akan bertanya balik, “Siapa dia? Dan siapa yang peduli?” Itu sudah menandakan banyak orang tidak tahu musik secara universal. Orang tua lahir, memuja-muja Led Zeppelin kemudian mati. Dan generasi selanjutnya lahir, dan tidak mau tahu tentang Led Zeppelin. Mereka sama seperti mengaku pecinta film tapi tidak tertarik menonton Gone With the Wind atau klasik lainnya.
Semua orang tahu Elvis Presley. Pertanyaanya adalah siapa yang mau mendengarkan Elvis bernyanyi? Memisah-misahkan musik berdasarkan tahun sudah melanggar definisi keadilan itu sendiri. Elvis sudah mati, jaman sudah berubah. Apa-apaan? Sah-sah saja jika Anda tidak menyukai lagu Elvis. Tapi sangat menyedihkan hidup Anda jika tidak mau mendengarkan lagu Elvis. Semua orang pernah melihat gambar Kurt Cobain dan Sex Pistols di baju-baju yang dijual di pasar. Dan mereka menganggap itu keren walaupun belum pernah mendengar lagu-lagunya.
Banyak pendengar musik baru yang tidak mementingkan artistik akan berkata Tom DeLonge lebih hebat bermain gitar dibanding Jimi Hendrix.. Mereka sudah menghakimi duluan sebelum melihat aksi garang dewa gitar Hendrix. Klise tingkat tinggi ketika ada orang bilang Tom lebih muda dibanding Hendrix. Contoh—bukan pengandaian—lain? Dengar jawaban orang lain yang membandingkan gitaris Gigi dengan Keith Richards. Sebenarnya itu akibat kurang eksplorasi terhadap musik lama dan terjebak di jalur yang sama.
Kelangkaan musik juga mempersuram gambaran masa depan musik itu sendiri. Jadi berterimakasihlah dengan adanya amazon. Saya tidak akan pernah mengetahui lagu-lagu Bob Dylan jika saja Saya tidak ulet mencari CDnya di rak paling pojok bawah dan ditutupi CD artis lain di sebuah toko musik di daerah Saya. Kedekatan seorang fans terhadap artis lama yang hanya memiliki album Greatest Hits saja. Retailer lokal memang terkadang memberi perlakuan khusus (atau menganak tirikan?) terhadap artis-artis lama. Kecuali Aerosmith, Saya jarang melihat lagu-lagu lama pada album aslinya. Beberapa album The Beatles yang beredar di negara Saya semuanya adalah kumpulan lagu-lagu terbaik mereka.
Kemajuan teknologi sangat mempengaruhi musik itu sendiri. Setelah Anda bisa menciptakan lagu sendiri lewat komputer—di ruang mana saja tempat Anda menaruh komputer—, Anda bisa langsung mengupload lagu itu di myspace Anda. Mudah kan? dAn tiadk ada yang bisa memprediksi kesuksesan Anda selanjutnya. Juga segi positif bagi para pendengar musik, sample bisa didengar di Youtube yang juga mempromosikan lagu itu sendiri. Atau untuk remaster lagu-lagu klasik sampai enak didengar anak-anak jaman iPod.
Pembajakan merupakan tantangan terbesar di dunia hiburan yang juga disebabkan kemajuan teknologi. Musik sekarang kebanyakan berwujud MP3. Lebih praktis juga lebih berbahaya. Orang-orang bisa mendapatkan 150 lagu dengan harga lima ribu. Sedangkan orang-orang dengan kelas lebih tinggi mendapat 15 lagu dengan harga 75 ribu. Apalagi sejak mengenal yang namanya internet. Musik semakin cepat, murah dan mudah didapat. Bahkan lebih mudah daripada membuang air besar. Setelah Anda mendownloadnya secara gratis, Anda bisa memasukkannya ke dalam iPod Anda. Itu akan dapat menyebabkan punahnya piringan hitam dan CD.
Dengan mengenal istilah download secara ilegal di internet, apa tujuan artis merilis banyak hit single? Agar menjadi artis dengan lagu paling banyak didownload di internet! Penjualan album jauh merosot. Anda tidak akan lagi menemukan sold out album seperti Michael Jackson, Bee Gees dan Eagles dulu. Namun Kanye West yang masuk daftar top artists di internet. Kehadiran MTV juga Saya rasa menjadi mimpi yang lebih buruk. Tidak akan ada orang yang menyalahkan Anda menonton MTV. Musik diputar dengan gratis. Jadi Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk itu. Anda suka American Idiot? Silahkan terus duduk di depan TV layar datar Anda, mendengarkan lagunya yang diputar bisa sampai 16 kali sehari di MTV. Dengar terus sampai Anda sendiri merasa muak dengan lagunya.
KILL BILL VOL. 1
A
Film keempat dari sutradara sableng Quentin Tarantino. Kali ini Tarantino kembali ke wujud asalnya—seorang fanatik grindhouse. Namun tetap menggunakan ciri khasnya. Sebagai sutradara yang tidak pernah membuat film buruk, itu juga bekerja pada Kill Bill volume pertama ini. Dan dengan sentuhan
gaya film kelas B, Tarantino telah menciptakan paruh pertama saga yang mengeksploitasikan kekerasan sehingga hasil akhir filmnya menjadi berdarah-darah.
Sebut saja Sang Pengantin (Thurman), seorang pembunuh bayaran yang pensiun dan sedang mengandung ingin memulai hidup baru. Ketika latihan upacara pernikahan, sang boss Bill (Carradine) beserta anggota Deadly Assassin Vipernya mengacaukan segalanya. Membunuh semua orang pada gereja itu kecuali satu, Sang Pengantin yang ternyata koma. Setelah empat tahun berlalu dan tersadar bahwa dirinya telah kehilangan anakya, Sang Pengantin memburu
lima orang yang sudah menghancurkan masa lalu dan anaknya.
Tetap menggunakan permainan alur tingkat tinggi. Plot di-Tarantino-kan menjadi seperti sebuah buku dengan bab-bab yang bersambung dan seperti biasa kejutan akan menanti. Karena Tarantino tahu alur campuran bisa memberi fakta-fakta baru yang susah diprediksi dan Pulp Fiction adalah wujud nyata pembuktiannya.Dan sebagai film kelas B, mohon batas-batas logika dan moral jangan terlalu dipikirkan. Karena pada naskahnya, Tarantino hanya memberikan penjelasan terhadap seluk beluk pada dunia Kill Bill itu sendiri. “Revenge is a cold dish served best” jelas-jelas tidak baik digunakan sebagai panutan hidup. Bahkan Sang Pengantin sempat diperingati oleh sang pembuat pedang asal
Okinawa , Hattori Hanzo (Sonny Chiba) bahwa balas dendam bisa membuat orang tersesat. Namun karisma Hanzo kalah besar dengan dendam yang disimpan Sang Pengantin. Selain itu Hanzo juga bernai berkata Tuhan akan terpotong dengan pedangnya. Sungguh aneh pemikiran Tarantino saat menulis naskah film ini. Sekali lagi mohon hal tersebut jangan dipersoalkan.
Balas dendam merupakan tema utama dalam film ini. Seperti tema film kelas B lainnya, wanita yang menuntut balas serta pertarungan samurai mewarnai film ini. Mungkin sebagai penghormatan Tarantino terhadap film-film silat jabot era Shaw Brothers. Termasuk musik pengiring yang tiba-tiba berhenti. Bahkan logo Shaw Brothers digunakan sebagai pembuka film sendiri.
Hal gila lainnya adalah pada sequence pertarungan di rumah Blue Leaves. Sang Pengantin dengan kostum yang diambil dari film terakhir Bruce Lee, Game of Death, membasmi setiap orang yang menghalangi misinya membunuh Oren-Ishii (Lucy Liu), seorang wanita campuran Cina-Amerika dan Jepang yang menjabat menjadi pimpinan mafia, sebagai nama pertama dalam daftar matinya. Terlibat pertarungan berdarah antara satu orang dengan satu orang—yaitu sang gadis murahan Gogo Yubari (Chiaki Kuriyama) yang membawa senjata super mematikannya—, serta satu orang dengan orang banyak—ketika Sang Pengantin dikeroyok pasukan pribadi Oren yang bertuksedo, memanggil mereka sendiri dengan nama Crazy 88 dengan pimpinan ksatria botak Johnny Mo (Gordon Liu). Itu seperti film-film Bruce Lee dimana disetiap penampilannya, tidak pernah absent dua atraksi seperti yang telah disebutkan di atas. Dan diakhiri dengan duel indah Sang Pengantin dan Oren-Ishii yang diselimuti salju berguguran.
Jika Anda perhatikan alasan Tarantino membuat sebagian adegan hitam putih pada pertarungan melawan Crazy 88 adalah bukan alasan artistik. Namun hanya untuk menghindari rating NC-17. Tetap saja itu merupakan rangkaian pertarungan yang seru. Dan penuh warna merah. Dengan kata lain Tarantino tidak rugi membayar Sonny Chiba dan koreografer Yuen Wo Ping karena mereka telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik.
Seperti biasa, Tarantino sangat bagus dalam memperkenalkan para karakter dalam film ini sehingga mereka selalu tampak berkesan dalam pikiran kita. Lihat kehadiran pertama tokoh yang sebenarnya mengambil peran sentral dalam volume 2, sang pendekar wanita bermata satu Elle Driver, berjalan menyelusuri rumah sakit dengan iringan musik siulan horror Twisted Nerve dari Bernard Hermann. Itu adalah adegan singkat yang nyaris tak bermakna, tetapi mampu melekat dalam pikiran kita dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan kita pun dibuat kagum dengan sosok dingin Bill yang belum sempat terlihat—tapi setidaknya kita tahu wajah dari David Carradine, kan?
Dan mengenai kartun jepang atau biasa disebut anime itu yang digunakan sebagai media flashback asal-usul Oren-Ishii, terlihat sangat absurd dan konyol menghadirkan anime di tengah-tengah film keras seperti ini—walaupun kartunnya sendiri sangat sadis. Itu mengingatkan saya terhadap anime berdarah-darah yang kalau tidak salah berjudul North Star. Entah karena alasan apa, tapi jujur saja sequence kartun jepang singkat itu sangat menyayat hati justru dengan iringan musik melodrama western spaghetti.
Tarantino sudah membuat sebuah mahakarya yang baru. Brilian. Walaupun baru setengah, setidaknya kita bisa mendapat gambaran betapa hebatnya volume 2 nanti. Dengan harapan setinggi langit, sambungan—bukan sekuel—Kill Bill ini harus dapat memuaskan para fanatik Tarantino.
2003
Miramax
Jenis: Aksi/Drama
Sutradara: Quentin Tarantino
Pemain: Uma Thurman, Lucy Liu, Vivica A. Fox, Daryl Hannah
Penulis: Quentin Tarantino
Grindhouse
A
Bagaimana bila dua sutradara nyentrik dan jenius membuat dua film gila? Pasti akan menjadi fitur ganda gila dan sinting namun luar biasa. Well, Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez melakukannya. Jika masih butuh kamus Grindhouse (n) berarti bioskop yang memutarkan dua film eksploitasi kelas B—sebut saja murahan— yang mengandung unsur seks, kekerasan dan subyek ekstrim lainnya secara back to back pada dekade 60 dan 70-an. Begitu juga dengan grindhouse tahun 2007 ini. Dua fitur film dipisahkan dengan beberapa trailer palsu yang lengkap dengan reel hilang, iklan makanan dan kesehatan. Jangan salah dulu, walaupun film kelas B, karisma Tarantino dan Rodriguez mampu menggaet bintang-bintang macam Rose McGowan, Fergie, Rosario Dawson, Kurt Russell serta sutradara-sutradara top spesialis film-film hebat bergaya kelas B untuk membuat trailer-trailer palsu tersebut. Sebut saja trailer “Machete” karya Rodríguez sendiri yang memakai sepupunya—mantan narapidana—Danny Trejo sebagai aktornya, segmen trailer “Thanksgiving” karya Eli Roth (Hostel), trailer “Werewolf Woman of the SS” karya Rob Zombie (The Devil’s Reject) yang notabene merupakan remake film grindhouse klasik ILSA: She Wolf of the SS serta segmen “Don’t” dari Edgar Wright (Shaun of the Dead). Berharap saja tidak ada anak-anak penggemar Spy Kids yang tertarik menonton spin off aksi paman Machete itu.
Untuk fitur film pertama, dipersembahkan “Planet Terror” karya Rodriguez. Bergenre action-horror, Planet Terror menceritakan tentang sebuah kota yang terjangkit virus dimana korban-korban yang terinfeksi akan menjadi zombie dengan kulit bergelembung. Seorang penari telanjang, Cherry (Rose McGowan), yang kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan. Di sisi lain, virus semakin tersebar luas. Sehingga bersama pacarnya, El Wray (Freddy Rodríguez), Dr. Dakota Block (Marley Shelton) dan beberapa orang yang selamat, Cherry merupakan harapan terakhir manusia dengan machina gun berkekuatan tinggi yang dipasang pada kaki kanannya. Nikmati saja aksi yang rasanya seperti Van Helsing pada film-film Michael Dudikoff. Dan sebagai penyegar, lihat cameo dari Bruce Willis sampai Quentin Tarantino.
Dan fitur kedua, Death Proof karya Tarantino. Berbeda dengan Planet Terror yang kick-ass babe, Death Proof mengusung tema slasher thriller yang tampil sebagai film kelas B dengan basis naskah yang sangat kuat—Tarantino mengaku naskah Death Proof adalah yang terbaik diantara yang pernah ia buat. Penuh dengan obrolan-obrolan kotor dari para gadis-gadis nakal serta ketegangan murahan yang berhasil diciptakan Tarantino pada setengah jam terakhir. Seorang psikopat maniak, Stuntman Mike (Kurt Russell), berencana membunuh beberapa gadis dibalik mobil raksasa yang disebutnya Death Proof (anti kematian), meluncur dengan kecepatan 200 mil per jam! Cukup menyenangkan melihat wanita-wanita cantik seperti Rosario Dawson, stuntman asli Zöe Bell dan pemeran cheerleader berbaju kuning Mary Elizabeth Winstead diteror oleh seorang stuntman bajingan. Dengan pergerakan kamera yang minim, Tarantino bisa memberi kesan kepada penonton bahwa mereka benar-benar sedang menonton film kelas B era Vanishing Point. Patut disayangkan juga Mickey Rourke tidak jadi mengambil peran Stuntman Mike, padahal Rourke sudah tampil cukup baik sebagai karakter sangar Marv dalam Sin City. Siap-siap saja untuk menonton lap dance dari si seksi Vanessa Ferlito serta cameo dari seorang psikopat bernama Eli Roth.
Semua orang yang terlibat dalam produksi film ini sudah masuk ke dalam jiwa semangat grindhouse. Saya cinta konsep yang dibuat sutradara Reservoir Dogs, Desperado, Pulp Fiction, From Dusk Till Dawn, Once Upon A Time in Mexico, Kill Bill dan Sin City ini. Diantara dua film itu, bisa dibilang Death Proof memiliki dasar naskah yang lebih baik. Saya sangat suka bagaimana Tarantino mengakhiri nyawa para gadis serta filmnya sendiri. Namun tak adil rasanya jika melihat hanya dari satu film karena ini adalah grindhouse. Menilai secara keseluruhan akan jauh lebih baik mengingat konsep yang dipakai memang luar biasa unik. Score yang dibuat Rodriguez sangat memorable serta pemilihan soundtrack yang tepat oleh Tarantino—seperti yang selalu ia lakukan. Sayangnya untuk menghindari rating NC-17, Tarantino dan Rodriguez harus mengurangi unsur eksploitasi seks dan kekerasan yang berlebihan—kalau saja mereka tidak mau diomeli oleh Weinstein Company. Bahkan faux trailernya sendiri lebih memiliki unsure-unsur tersebut disbanding dua fitur utamanya.Tetap saja Grindhouse perlu rating X. Film ini tidak artistik, namun kreatif, tidak biasa dan benar-benar tontonan langka. Secara keseluruhan film ini merupakan wajib tonton bagi siapapun yang menghargai film terutama jika film ini diputar di bioskop—karena satu tiket dapat dua film hebat—, khususnya lagi jika Anda penggemar Rose McGowan karena bersialah untuk double McGowan. Takkan ada orang yg mau memberikan oscar pada Grindhouse. Tapi tetap saja Grindhouse adalah sebuah mahakarya sinema.
2007
Jenis:
Aksi, Horror, Thriller
Sutradara:
Quentin Tarantino, Robert Rodriguez
Pemain:
Rose McGowan, Freddy Rodriguez, Marley Shelton,
Kurt Russell, Rosario Dawson, Zöe Bell
Penulis:
Quentin Tarantino, Robert Rodriguez
Produser:
Weinstein Company
MPAA Rating: R